Ketika Sekutu Berubah Menjadi Lawan: Pelajaran dari Jepang, China, dan Masa Depan Eropa
Dalam politik global, hubungan antarnegara jarang bersifat permanen. Sejarah menunjukkan bahwa sekutu hari ini dapat menjadi pesaing, bahkan lawan, di masa depan. Perubahan ini jarang disebabkan oleh ideologi atau emosi, melainkan oleh pergeseran keseimbangan kekuatan.
Banyak orang bertanya: mengapa negara yang dulu dekat dengan Amerika Serikat justru kemudian berseberangan? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat pola, bukan peristiwa tunggal.
Tidak Ada Sekutu Abadi dalam Geopolitik
Dalam teori hubungan internasional, dikenal prinsip balance of power. Intinya sederhana:
kekuatan besar akan berusaha mencegah munculnya pesaing yang setara.
Selama sebuah negara:
- lebih lemah,
- bergantung,
- dan sejalan dengan kepentingan negara dominan,
maka ia disebut sekutu. Namun ketika negara itu tumbuh terlalu cepat dan mulai mandiri, statusnya bisa berubah.
Kasus Jepang adalah contoh klasik.
Jepang: Sekutu yang Terlalu Sukses
Pasca Perang Dunia II, Jepang dibangun ulang dengan dukungan Amerika Serikat. Konstitusi Jepang membatasi militernya, sementara AS membuka akses pasar, teknologi, dan perlindungan keamanan. Jepang pun fokus pada industri dan ekspor.
Hasilnya luar biasa. Pada 1970–1980-an, produk Jepang—mulai dari otomotif hingga elektronik—menguasai pasar global. Jepang bukan hanya sukses, tetapi mulai menyaingi Amerika di sektor strategis.
Di sinilah titik balik terjadi.
Pada 1985, melalui Plaza Accord, Jepang ditekan untuk menaikkan nilai mata uang yen. Dampaknya besar: ekspor terpukul, terjadi gelembung ekonomi, dan akhirnya stagnasi panjang yang dikenal sebagai lost decades. Jepang tidak dihancurkan melalui perang, melainkan dinetralkan melalui mekanisme ekonomi.
Namun Jepang tetap menjadi sekutu, karena memilih patuh dan tidak melawan secara strategis.
China: Menolak Menjadi “Jepang Kedua”
China memulai jalur yang mirip: integrasi ekonomi global, ekspor besar, dan pertumbuhan pesat. Tetapi respons China berbeda saat tekanan datang.
Ketika menghadapi tarif, pembatasan teknologi, dan isolasi diplomatik, China tidak tunduk sepenuhnya. Sebaliknya, China mempercepat kemandirian teknologi, memperkuat militernya, dan membangun jaringan ekonomi alternatif.
Perbedaan nasib Jepang dan China bukan terletak pada kekuatan awal, melainkan pada respons terhadap tekanan. Jepang menerima pembatasan. China melawan. Akibatnya, China diposisikan sebagai pesaing strategis, bahkan ancaman.
Eropa: Sekutu yang Mulai Mandiri?
Pertanyaan berikutnya adalah Eropa, khususnya Prancis dan Jerman. Saat ini, Eropa masih sekutu dekat Amerika Serikat melalui NATO. Namun tanda-tanda kemandirian mulai terlihat: kebijakan industri sendiri, perbedaan sikap dagang, hingga wacana pertahanan Eropa yang lebih mandiri.
Sejarah menunjukkan bahwa ketika sekutu mulai mandiri secara ekonomi, teknologi, dan militer, hubungan akan diuji. Bukan karena niat jahat, tetapi karena logika kekuatan.
Apakah Eropa akan mengikuti jalur Jepang—dibatasi namun tetap sekutu—atau berkembang menjadi pesaing struktural? Jawabannya masih terbuka.
Penutup: Pola yang Berulang
Dari Jepang hingga China, satu pelajaran besar dapat ditarik:
dalam geopolitik, yang abadi bukanlah persahabatan, melainkan kepentingan.
Sekutu aman selama mereka tidak menyaingi. Begitu mereka tumbuh sejajar dan mandiri, hubungan akan berubah—perlahan, sistematis, dan sering kali tanpa perang.
Memahami pola ini membantu kita melihat dunia bukan dalam hitam-putih “kawan vs lawan”, tetapi sebagai dinamika kekuatan yang terus bergerak.
Eksplorasi konten lain dari Goonung
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar