“Ketika Yang Terpilih Ingin Dijatuhkan: Siapa yang Akan Diingat Sejarah?”

Dalam panggung kekuasaan, yang terlihat seringkali hanyalah hasil akhir—siapa yang menang, siapa yang duduk di atas. Namun jauh di balik itu, ada narasi yang tak pernah usai: tentang siapa yang layak, dan siapa yang merasa paling berhak.

Di suatu masa, ada seseorang yang terpilih melalui jalan yang sah. Ia tidak datang sendiri, ia datang dengan mandat dari rakyat. Namun justru setelah ia terpilih, muncul upaya untuk menjatuhkannya. Bukan karena ia melakukan kesalahan besar, tapi karena kehadirannya mengganggu peta kuasa yang sudah lama mapan.

“Jika aku menjatuhkannya sekarang, mungkin aku akan dipuji sebagai penyelamat. Tapi kelak, sejarah akan mengenangku sebagai orang yang menghianati suara rakyat.”
Sebuah bisikan nurani yang tak semua politisi mau dengarkan.

Dan ironinya—jika alasan yang dicari pun terlalu dipaksakan, terlalu mengada-ada, terlalu dibuat-buat demi membenarkan niat menjatuhkan, maka satu pertanyaan sederhana pun akan menggema:

“Jika memang ia tidak layak, mengapa tidak sejak awal engkau maju sendiri atau mengusung orang yang engkau yakini layak?”

Mengapa justru setelah kalah, baru segala cara dihalalkan untuk mengambil alih kekuasaan? Mengapa jalur hukum, opini publik, bahkan moralitas dijadikan alat untuk melawan keputusan rakyat itu sendiri?

Dalam dunia politik, kebenaran bisa dikaburkan, tapi hati rakyat tidak bisa dibohongi selamanya. Mereka mungkin diam, tapi mereka mencatat. Karena sejarah yang sesungguhnya tidak ditulis oleh pena penguasa, melainkan oleh ingatan kolektif bangsa.

Yang terpilih, jika dijatuhkan bukan karena keadilan, tapi karena ambisi, maka itu bukan koreksi—melainkan pengkhianatan. Hari ini bisa jadi ada yang bersorak karena berhasil menggoyang takhta, tapi waktu akan membisikkan pertanyaan:

“Apakah engkau menang dengan kehormatan, atau sekadar merebut dengan tipu muslihat?”

Sejarah punya cara sendiri untuk memilah siapa yang benar-benar pemimpin, dan siapa yang hanya sekadar pemburu kekuasaan. Maka hati-hatilah saat menumbangkan yang dipilih, karena bisa jadi yang diruntuhkan bukan hanya satu orang—tetapi kepercayaan bangsa itu sendiri.


Eksplorasi konten lain dari Goonung

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑