Udara dingin yang tajam menusuk paru-paruku, disusul suara tangisan nyaring yang ironisnya familiar. Mataku mengerjap, berusaha memfokuskan pandangan pada cahaya lampu yang menyilaukan. Aroma antiseptik dan getaran lembut ranjang bayi… ini bukan mimpi. Ini nyata. Aku kembali.
Detak jam dinding di ruang bersalin itu terasa seperti penanda takdir yang berulang. Kali ini, setiap suara perawat, setiap sentuhan lembut ibuku yang masih tampak muda, terasa begitu hidup, begitu nyata. Ingatan dua puluh tujuh tahun kehidupanku yang telah usai—cinta yang hilang, penyesalan yang membekas, dan keputusan-keputusan yang salah—membanjiriku bagai tsunami. Sebuah kesempatan kedua, pikirku. Sebuah anugerah untuk memperbaiki segalanya. Aku akan menghindari kesalahan yang sama, menuntun hidup ini ke arah yang lebih baik, lebih bahagia.
Namun, senyum tipis di wajah ayahku saat ia menggendongku, dan tatapan penuh arti di mata ibuku yang menatapku, perlahan memudar seiring kata-kata mereka.
“Selamat datang kembali, Nak,” bisik ibuku, suaranya sarat dengan makna yang lebih dalam dari sekadar ucapan selamat. Ia mengelus lembut pipiku, sentuhan yang terasa asing namun begitu familiar. “Dunia ini… kita semua pernah melaluinya sekali.”
Ayah menimpali, suaranya pelan namun tegas, “Ini bukan kali pertama. Hampir semua yang ‘terlahir kembali’ di lintasan waktu yang sama, membawa serta ingatan masa lalu mereka. Sebuah hadiah, sekaligus peringatan.” Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya meresap. “Kau boleh mencoba yang terbaik, memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, tetapi ingatlah batasannya. Terlalu jauh melenceng dari takdir yang sudah ada, terlalu banyak mengubah alur yang telah terukir, dan ingatanmu akan kembali menjadi abu. Bukan hanya kenangan masa lalu yang sekarang kau pegang, tapi juga semua pelajaran dan pengalaman yang membuatmu menjadi dirimu saat ini, akan lenyap. Jiwamu akan kosong, hidupmu akan berlanjut, tapi tanpa jejak pengalaman masa lalu yang sekarang kau pegang.”
“Banyak yang mencoba,” tambah ibuku, kini menatapku dengan mata yang memancarkan kebijaksanaan dan sedikit kesedihan. “Mereka ingin mengubah segalanya, menolak penyesalan. Tapi batas itu nyata, dan harganya adalah kehilangan diri mereka sendiri, sekali lagi.”
Dunia yang baru saja terasa seperti taman bermain kesempatan, tiba-tiba berubah menjadi labirin dengan dinding tak terlihat. Hadiah itu berbalut ancaman. Aku terlahir kembali, dengan semua pengetahuanku, namun dalam sangkar takdir yang tak sepenuhnya bisa kuubah. Pertanyaan terbesarku kini: sejauh mana aku bisa melangkah sebelum ingatan ini lenyap? Dan seberapa banyak kebahagiaan yang bisa kuciptakan tanpa harus membayar harga yang tak terbayangkan?
Kelanjutan nya anda buat dan bayangkan sendiri, karena ini cuma sebuah prolog dan ide cerita.
Eksplorasi konten lain dari Goonung
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar