Fenomena ini cukup umum terjadi pada banyak siswa, dan ada beberapa alasan utama mengapa perilaku kehadiran dan kerajinan siswa bisa berubah drastis saat mendekati kelulusan (tamat sekolah) dibandingkan masa-masa sebelumnya:
- Kesadaran akan Konsekuensi yang Mendekat (Increased Awareness of Consequences):
- Sebelumnya: Di tahun-tahun awal atau tengah masa sekolah, konsekuensi dari bolos atau tidak rajin mungkin terasa jauh atau tidak begitu mendesak. Nilai jelek masih bisa diperbaiki di semester berikutnya, atau ulangan harian yang buruk tidak terasa fatal bagi kelulusan secara keseluruhan. Bolos satu atau dua hari rasanya tidak akan langsung menggagalkan pendidikan.
- Menjelang Tamat: Saat mendekati kelulusan, taruhannya menjadi jauh lebih tinggi. Ada ujian akhir yang menentukan (seperti Ujian Nasional atau ujian sekolah), nilai rapor semester akhir yang sangat diperhitungkan (untuk syarat kelulusan atau pendaftaran ke jenjang berikutnya/kuliah/kerja), dan persyaratan kehadiran minimal untuk bisa ikut ujian atau wisuda. Siswa sadar bahwa bolos atau tidak rajin sekarang bisa langsung menggagalkan mereka dari kelulusan atau mempersulit langkah selanjutnya.
- Fokus pada Masa Depan (Future Focus):
- Sebelumnya: Pandangan siswa biasanya lebih pendek, fokus pada kegiatan harian, teman, atau hobi. Masa depan setelah lulus terasa masih jauh dan abstrak.
- Menjelang Tamat: Siswa mulai dihadapkan pada kenyataan akan melanjutkan ke mana setelah lulus. Mereka mulai memikirkan pendaftaran kuliah, mencari kerja, atau rencana lain. Mereka menyadari bahwa catatan akademik yang baik dan status lulus adalah syarat mutlak untuk melangkah ke tahap berikutnya. Motivasi eksternal dari tujuan masa depan ini menjadi sangat kuat.
- Rasa Urgensi (Sense of Urgency):
- Sebelumnya: Waktu di sekolah terasa panjang. Ada banyak semester dan tahun untuk “mengejar ketertinggalan” atau memperbaiki nilai.
- Menjelang Tamat: Waktu terasa sangat singkat. Materi pelajaran yang tersisa harus dikuasai, tugas-tugas harus diselesaikan, dan persiapan ujian harus dimaksimalkan dalam waktu yang terbatas. Rasa “kepepet” ini mendorong mereka untuk memanfaatkan setiap momen, termasuk hadir di kelas.
- Tekanan dari Berbagai Pihak (Increased Pressure):
- Sebelumnya: Tekanan dari orang tua atau guru mungkin ada, tetapi tidak seintens menjelang kelulusan.
- Menjelang Tamat: Orang tua, guru, dan bahkan lingkungan sosial (teman-teman yang juga rajin) memberikan tekanan yang lebih besar untuk fokus belajar, tidak bolos, dan menyelesaikan sekolah dengan baik. Ada ekspektasi kuat untuk “lulus bersama”.
- Melihat Garis Finis (Seeing the Finish Line):
- Sebelumnya: Perjalanan sekolah terasa panjang dan kadang melelahkan tanpa terlihat ujungnya.
- Menjelang Tamat: Garis finis sudah di depan mata. Mengetahui bahwa sedikit usaha lagi akan membuahkan hasil (kelulusan) bisa menjadi dorongan motivasi yang besar untuk “lari kencang” di detik-detik terakhir. Ada keinginan untuk menyelesaikan semuanya dengan baik dan merayakan kelulusan.
- Menghargai Waktu Tersisa (Appreciating Remaining Time):
- Beberapa siswa mungkin mulai menyadari bahwa waktu mereka di sekolah akan segera berakhir. Ini bisa menimbulkan keinginan untuk tidak melewatkan momen-momen terakhir bersama teman dan guru, serta menyerap ilmu sebanyak mungkin sebelum berpisah.
Jadi, perubahan perilaku dari malas/bolos menjadi lebih rajin saat mendekati tamat sekolah adalah perpaduan antara peningkatan kesadaran akan pentingnya kelulusan, dampak langsung pada masa depan, tekanan waktu, serta motivasi untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai hingga tuntas. Ini adalah transisi psikologis dan prioritas yang wajar saat seseorang mendekati tahap akhir dari sebuah periode penting dalam hidupnya.
Kalau saya merasa kurang lebih seperti itu, tidak tahu kalian seperti apa ?
Eksplorasi konten lain dari Goonung
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar